WhatsApp-Image-2026-09-15-at-23.22.04-1
10 Siswa MA NU Mojosari Raih Apresiasi dalam Lomba Menulis Cerpen

Mojosari – Semangat literasi mewarnai upacara Senin pagi di MA NU Mojosari. Pada Senin, 14 September 2026, madrasah mengumumkan para penerima penghargaan dalam Lomba Menulis Cerpen yang diikuti oleh siswa MA NU Mojosari.

Kegiatan ini menjadi salah satu upaya madrasah dalam memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan membaca, menulis, serta menuangkan ide dan imajinasi melalui karya sastra. Program tersebut sejalan dengan komitmen MA NU Mojosari dalam mengembangkan budaya literasi melalui afiliasinya dengan Nyalanesia.

Dari karya-karya yang terkumpul, ditetapkan tiga siswa sebagai juara utama. Ketiganya adalah:

  1. Juara 1 – Aulya Darul
    “Di Balik Senyum Ayah”
  2. Juara 2 – Ananda Syifairamadani
    “Garis Tangan yang Berbeda”
  3. Juara 3 – Rosyid Nasrullah
    “CEO Misterius”

Selain tiga juara utama, lima siswa lainnya mendapatkan penghargaan sebagai Juara Harapan. Masing-masing memperoleh hadiah berupa buku sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan keberanian mereka dalam berkarya.

Lima juara harapan tersebut adalah:

  1. Haris Haidar – “Dari Keraguan Menjadi Kemenangan”
  2. Naiya Arum Cahyani – “Tetesan Terakhir Hujan”
  3. Muhamad Tuba – “Ruh yang Tak Pernah Padam”
  4. Ridho Abdullah – “Melepas Lelah”
  5. Abdullah Rifdaniyar – “Sekolah di Ujung Peta”

Dua Siswa Beruntung Mendapatkan Tiket Festival Literasi Nasional

Menariknya, apresiasi dalam Lomba Menulis Cerpen ini tidak hanya diberikan kepada delapan siswa tersebut. Dua siswa lainnya mendapatkan kesempatan istimewa melalui undian, yaitu memperoleh tiket untuk menghadiri Festival Literasi Nasional yang diselenggarakan Nyalanesia di Solo pada 23 Mei 2026.

Dua siswa yang beruntung tersebut adalah:

  • Asa Tri Juwinda – “Misteri Master ‘F’”
  • Ulya Ilma Khoirina – “Pulang yang Tak Lagi Sama”

Kesempatan tersebut menjadi pengalaman berharga bagi para siswa untuk mengenal lebih dekat dunia literasi, bertemu dengan para pegiat literasi, serta mendapatkan pengalaman baru di luar lingkungan madrasah.

Karya Siswa Akan Dibukukan

Apresiasi terhadap karya siswa tidak berhenti pada pengumuman pemenang. Seluruh cerpen yang telah dikumpulkan dalam kegiatan ini direncanakan akan dicetak menjadi sebuah buku antologi cerpen karya siswa MA NU Mojosari.

Program ini digagas oleh salah satu guru MA NU Mojosari, Siti Nur Laila, yang akrab disapa Bu Ella. Ia melihat bahwa banyak siswa sebenarnya memiliki potensi dalam bidang membaca dan menulis, tetapi belum semuanya memiliki wadah untuk mengembangkan kemampuan tersebut.

“Menumbuhkan minat membaca dan menulis adalah tantangan di era sekarang. Agar siswa tidak hanya terpaku pada layar ponsel, mereka perlu diberikan ruang untuk berkarya,” ujar Bu Ella.

Bu Ella juga berpesan kepada siswa yang belum mendapatkan juara agar tidak berkecil hati. Baginya, setiap tulisan yang dihasilkan siswa tetap merupakan sebuah karya yang layak diapresiasi dan menjadi bagian dari perjalanan literasi madrasah.

“Saya ingin siswa-siswi menjadi pelopor budaya baik tersebut dan mampu mengharumkan nama MA NU Mojosari melalui berbagai perlombaan di luar sekolah,” ungkap Bu Ella.

Dengan dibukukannya karya-karya tersebut, para siswa diharapkan memiliki jejak karya yang dapat menjadi kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus menulis. Lebih dari sekadar sebuah perlombaan, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan budaya literasi yang berkelanjutan di lingkungan MA NU Mojosari.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait